Talempong: Pengertian, Sejarah, Jenis, Bahan dan Pembuatan Serta Cara Memainkan Alat Musik Khas MinangKabau

Pengertian Talempong

Talempong ialah salah satu perlengkapan musik tradisional berasal dari kebudayaan warga Minangkabau. Perlengkapan musik ini tercantum ke dalam tipe perlengkapan musik yang dimainkan dengan metode dipukul pada bagian yang menonjol dengan makai tongkat pemukul.


Pengertian Talempong

Talempong sering dipakai di dalam acara- acara yang diselenggarakan oleh warga Minangkabau, semacam halnya acara penyambutan tamu istimewa serta pula kegiatan hajatan perkawinan. Nah semacam apa sajakah bahan serta metode pembuatan perlengkapan musik Talempong? berikut ini penjelasannya.


baca juga: alat musik khas jawa timur 

Sejarah

Pada akhir kekuasaan Adhityawarman( 1347) di Minangkabau, perlengkapan musik yang meliputi gong serta talempong ialah simbol, prestise, serta kebesaran raja. Pada 1550- an, musik perunggu yang memakai kettle drums, ialah perlengkapan musik idiofon dibuat dari metal, ialah musik dari tradisi kerajaan Minangkabau. Diyakini perlengkapan musik tersebut merupakan talempong.

Perlengkapan musik ini konon biasa dipergunakan buat menyertai keberangkatan raja bersama rombongan tatkala menemui orang- orang Portugis di Tepi laut Tiku yang terletak di Kabupaten Agam. Dikala ini, Kabupaten Agam, spesialnya Sungai Puar, diketahui bagaikan salah satu sentra pembuatan talempong. Dahulu, perlengkapan musik ini dibuat dari batu serta kayu. Saat ini, perlengkapan musik jam itu dibuat dari kuningan.

Walaupun wujud talempong mirip dengan bonang pada gamelan Jawa, kedua perlengkapan musik tersebut terbuat dengan metode yang berbeda. Talempong memakai metode pembuatan a cire purdue, sedangkan bonang terbuat dengan tata cara tempaan. Metode a cire purdue merupakan metode pembuatan perlengkapan berbahan logam dengan lebih dahulu membuat cetakannya.

Cetakan tersebut terbuat dari parafin, setelah itu dibalut tanah liat, dikeringkan dengan metode dijemur, kemudian terbakar. Sehabis pembakaran, cairan parafin dikeluarkan sehingga menimbulkan rongga yang lalu diisi cairan logam. Sehabis cairan logam mengeras, baru dicoba proses penggerindaan, pemolesan, serta penyeteman nada.

Dahulu, pembuatan perlengkapan musik itu cuma dipahami oleh para pakar yang diucap tuo talempong. Merekalah yang memahami rahasia pembuatan talempong, tercantum nada- nada yang” disematkan” pada perlengkapan musik itu dengan cuma bersumber pada naluri rungu saja. Nada aslinya yang pentatonik terdiri atas 5 ataupun 6 nada. Apabila dibanding dengan nada diatonik, hendak terdengar tidak cocok ataupun seakan meleset di kuping.

Talempong dengan nada pentatonik biasa dipesan pemain talempong pacik dengan metode tradisional. Tipe tersebut ini dimainkan dengan metode interlocking ataupun silih meningkahi sehingga memunculkan pola irama tertentu. Dikala ini, pesanan talempong terus menjadi bermacam- macam, tidak cuma dalam nada pentatonik, namun pula dalam nada- nada diatonik. Nada yang dapat dimainkan pula tidak cuma satu oktaf, tetapi dapat lebih dari itu, tercantum nada- nada semacam kres serta mol.

Perihal ini dapat terjalin bersamaan dengan kian maraknya talempong kreasi. Dengan mencampurkan talempong bersama perlengkapan musik modern, instrumen musik tradisional tersebut dapat digunakan buat mengiringi lagu yang lebih lingkungan dibanding semata- mata menciptakan pola irama tertentu. Pertumbuhan talempong kreasi terjalin kira- kira pada kurun waktu tahun 1970- an. Salah satu pelopornya merupakan Yusaf Rahman, seseorang komponis besar asal Minang.

Yusaf awal kali mencerna tangga nada talempong pentatonik yang terbatas( cuma 5 not). Dia setelah itu menghasilkan pola tangga nada diatonik. Dengan demikian, perlengkapan musik tradisional Minang itu dapat dikolaborasikan dengan alat- alat musik yang lain. Yusaf yang mengawasi pembuatan talempong bernada diatonik tersebut yang dikerjakan oleh tuo- tuo talempong di Sungai Puar. Ia pula yang mengendalikan jumlahnya dalam satu meja, menyetem ketepatan nada- nadanya, dan mengendalikan mutu suaranya supaya cocok konsep diatonik.

Yusaf membagi talempong dalam 3 meja. Meja awal diucap gareteh ataupun melodi berisi 16 talempong dalam 2 oktaf nada diatonik yang dapat dimainkan dalam 1 kruis, naturel, serta 1 mol. Meja kedua diucap tingkah ataupun akord, terdiri atas 8 talempong. Meja ketiga diucap saua, pula terdiri atas 8 talempong. Settingan pada nada talempong ini sebenarny sama dengan settingan nada diatonik pada piano. Perubahan yang dicoba Yusaf ini pernah memunculkan perdebatan. Tetapi, keinginannya untuk dapat menciptakan talempong tidak pernah pudar sehingga lebih dapat dinikmati dan membuatnya kukuh pada hasil ciptaannya ini.

Semenjak itu, talempong bernada diatonik kian gempar di Minangkabau. Belum lama, penyeteman nada talempong tidak lagi cuma memakai feeling, namun memakai aplikasi di telepon genggam. Upacara manyadahi yang dahulu universal dicoba para tuo talempong juga telah tidak sempat lagi dicoba. Sebagaimana sejarahnya yang mempunyai kaitan dengan istana ataupun kerajaan, dalam perkembangannya, pemakaian talempong dalam warga Minangkabau nyaris senantiasa berhubungan dengan upacara adat, semacam upacara penaikan penghulu serta upacara pernikahan. Walaupun demikian, talempong pula jadi bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan warga Minangkabau.

Gunanya yang sakral juga terus bertransformasi jadi kian lentur bersamaan pertumbuhan warga. Perlengkapan musik tersebut saat ini tidak cuma mengiringi upacara adat, namun pula jadi suatu produk hiburan. Ini dimungkinkan dengan pertumbuhan talempong kreasi yang membuat perlengkapan musik tradisional tersebut tampak dengan luwes bersama alat- alat musik modern.

Tidak cuma jadi pengiring bermacam tipe tarian Minang ataupun digunakan buat menyuguhkan lagu khas Minang serta lagu Melayu, lagu- lagu Indonesia terkenal ataupun modern dan lagu Barat juga sanggup dimainkan memakai talempong. Dalam 5 tahun terakhir pula gempar talempong goyang yang menyuguhkan talempong dalam lagu- lagu campursari ataupun apalagi dangdut, dengan memasukkan unsur- unsur gendang sunda.

Membagikan wujud baru pada talempong dengan penggunaannya yang lebih luwes ialah upaya supaya anak muda tertarik buat berkenalan dengan talempong. Perihal ini berarti supaya perlengkapan musik tradisional khas Minang ini sanggup bertahan. Dengan metode inilah, talempong tidak cuma sanggup bertahan, tetapi pula tumbuh seturut kemajuan era.


Jenis-Jenis Talempong 

Menurut peranannya terdapat sekian banyak berbagai talempong, yakni:
- Talempong Duduk
- Talempong Pacik
- Talempong Garetek
- Talempong Tingkah
- Talempong Sawut
- Talempong Batu

Penjelasan Talempong:
1. Talempong Duduk harus ditempatkan sejajar di atas kayu dengan jumlah pencon 14 (empat belas) buah, dibanjar menjadi dua jajaran.
2. Talempong Pacik metode memainkannya dengan ditenteng tangan kiri sedangkan tangan kanan memukulnya. Sebab memainkannya dengan diiringi.
3. Talempong Garetak digunkan buat melodi.
4. Talempong Tingkah berperan buat rimis.
5. Talempong Sawut berperan buat nada- nada utama.

6. Talempong Batu, Pada Talempong Batu ini di jumpai dalam satu bangunan di taman Balai Adat Nagari Talang Anau, banyaknya 6( enam) buah batu yang tersusun apik berjajar diatas bantalan yang dibuat dari bambu. Pada suatu batu talempong tersebut ada suatu lukisan telapak kaki, corak batu talempong itu gelap memudar laksana logam yang hendak dipukul hendak memunculkan bunyi nyaring semacam nada perlengkapan musik tradisional Minangkabau yang dibuat dari logam ialah Talempong. Lempengan batu yang terletak di Talang Anau ini sudah disusun cocok dengan tangga nada yang dikeluarkan oleh tiap- tiap lempengan batu tersebut sehingga dapat dimainkan menjajaki irama lagu tradisional Minangkabau. 


Bahan Pembuatan Perlengkapan Musik Talempong

Era dulu perlengkapan musik talempong ini terbuat dari bahan dasar batu serta kayu, namun dikala ini perlengkapan musik Talempong pada biasanya terbuat dari bahan dasar kuningan. Pemilihan bahan dasar kuningan ini didasarkan oleh mutu bunyi ataupun suara yang dihasilkan, Talempong yang mengenakan bahan kuningan umumnya hendak menciptakan suara yang lebih jernih dari pada mengenakan dari bahan dasar kayu ataupun batu. Buat energi tahannya juga Talempong kuningan pula bisa lebih lama dibanding dengan talempong berbahan dasar dari kayu. Berat Talempong kuningan juga pula lebih ringan dibanding dengan perlengkapan musik Talempong yang dibuat dari bahan dasar batu.


Metode Pembuatan Perlengkapan Musik Talempong

Talempong berbahan dasar logam umumnya terbuat dengan metode "a cire purdue", ialah metode pembuatan kriya dengan terlebih dulu membuat suatu wujud barang tiruan mengenakan bahan parafin, kemudian parafin tersebut dilapisi oleh tanah liat. Pada dikala proses pelapisan tanah liat, para pengrajin setelah itu membagikan suatu lubang yang nantinya hendak dipakai buat pintu keluar parafin dikala dilelehkan. Parafin yang sudah dilapisi tanah liat kemudian dijemur serta terbakar.

Kala proses pembakaran, parafin tersebut hendak mencair serta setelah itu keluar dari susunan tanah liat lewat celah ataupun lubang yang sudah terbuat tadi, sehingga terdapat rongga dibagian dalam tanah liat. Rongga inilah yang nantinya diberi cairan logam. Logam yang nantinya hendak dimasukkan ke dalam tanah liat umumnya dicairkan di dalam kisaran temperatur 1000C.

Sehabis logam tersebut dimasukkan, kemudian didiamkan sepanjang dekat kurang lebih 6 jam. Setelah sesi pendiaman berakhir, hingga tanah liat dibelah. Talempong yang sudah separuh jadi kemudian dibersihkan mengenakan gerinda besi serta setelah itu dihaluskan mengenakan amplas halus.


Metode Memainkan Talempong

Salah satu perlengkapan musik tradisional yang tetap muncul dalam tiap upacara adat Minangkabau merupakan Talempong. Talempong ialah seperangkat perlengkapan musik yang dibuat dari kombinasi tembaga, timah putih serta besi putih. Dimainkan dengan metode dipukul dengan memakai stik( perlengkapan jam berbahan kayu). Mutu Talempong dapat diukur dari kandungan kombinasi dari 3 faktor pembentuknya. Terus menjadi banyak faktor tembaga dalam satu buah talempong hingga hendak terus menjadi baik kualitasnya.



Berupa bulat serta berdiameter dekat 17 centimeter– 18 centimeter, Talempong memiliki dimensi yang berbeda antara bagian atas serta bagian dasar. Bagian atas sedikit lebih besar dari bagian dasar. Dibagian atas Talempong ada bulatan yang lebih kecil semacam kepala Talempong, sebaliknya pada bagian dasar perlengkapan musik terbuat berlubang. Bagi dimensi standar yang universal digunakan, Talempong Minangkabau memiliki dimensi standar bagaikan berikut: 1) besar 8. 5 centimeter– 9. 4 centimeter, 2) garis tengah 17 centimeter– 18 centimeter, 3) besar bilik 5– 6 centimeter, 4) garis tengah dasar 16. 5 centimeter– 17 centimeter, 5) garis tengah pencu 2 centimeter– 2. 5 centimeter, 6) ketebalan perlengkapan 3 milimeter– 4 milimeter.

Perlengkapan musik ini dimainkan dengan metode dipukul memakai perlengkapan pemukul berbentuk kayu kecil( stik). Terdapat 2 metode memainkan talempong ialah: 

1) Metode tradisional( interlocking), dimana seperangkat Talempong dimainkan oleh 3 orang. Tiap- tiap pemain memainkan 2 buah talempong yang dipegang dengan tangan kiri secara vertikal, atas serta dasar. Yang atas dijepit bunda jari serta jari telunjuk, sebaliknya yang dasar digantungkan pada jari tengah, manis serta kelingking. Fungsi Jari telunjuk sebagai pemisah antar talempong satu dengan yang lainnya sehingga suara talempong nyaring. Pada metode awal ini tangan kanan berperan memegang serta memukulkan stik ke fitur Talempong. 
2) Metode modern, kalau talempong- talempong diletakkan di atas rel ataupun rancakan. Talempong tersebut Dipukul dengan stik pemukul di atas rancakan yang terdapat.
Metode Memainkan Talempong

Perlengkapan musik Talempong kerap dimanfaatkan bagaikan aksesoris dalam bermacam upacara- upacara adat Minangkabau semacam:
1) Upacara penaikan penghulu.
2) Upacara acara pernikahan.
3) Menaiki rumah baru.
4) Acara panen raya.
5) Kegiatan pertunjukan randai.
6) Musik pengiring tari.
7) Kegiatan gotong royong.
8) Upacara sunat rasul, Dll.

Dapat dikatakan tanpa kedatangan Talempong dalam upacara biasanya ataupun tari spesialnya seolah santapan tanpa garam. Talempong dapat pula dimanfaatkan buat mengendalikan irama musik. Secara universal guna talempong merupakan:
1) Bagaikan fasilitas upacara.
2) Bagaikan sajian estetis.
3) Bagaikan hiburan.
4) Pengintegrasian warga.
5) Bagaikan media komunikasi.

Talempong pula muncul menghidupkan atmosfer dalam arak- arakan penyambutan tamu agung. Biasanya, talempong dimainkan bersama sebagian instrumen tradisional Minangkabau yang lain semacam saluang, gandang, serta serunai.

Berlangganan update artikel terbaru via email

Belum ada Komentar untuk "Talempong: Pengertian, Sejarah, Jenis, Bahan dan Pembuatan Serta Cara Memainkan Alat Musik Khas MinangKabau "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel